Karantina Riau Musnahkan 5,9 Ton Bawang Merah

{"id":71,"name":"Humas","email":"[email protected]","email_verified_at":null,"role":"superadmin","created_at":"2024-02-23T02:15:41.000000Z","updated_at":"2024-02-23T03:48:14.000000Z","regional_id":null}

Riau - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Riau melakukan pemusnahan terhadap 5,9 ton bawang merah yang diduga berasal dari impor ilegal melalui Batam. Bawang merah yang dikemas dalam 238 karung tersebut dimusnahkan karena tidak dilengkapi dokumen karantina dari daerah asal.


"Ratusan karung bawang merah tersebut diangkut menggunakan kapal kayu dari Batam ke salah satu pelabuhan di Kab. Siak, Riau yaitu tepatnya di Pelabuhan Desa Mengkapan pada 25 April lalu," jelas Kepala Karantina Riau, Almen MT Simarmata dalam siaran persnya, Jumat (10/5).


Gambar : 5,9 ton Bawang merah yang diduga berasal dari impor ilegal dimusnahkan Karantina Riau (8/5)


Pemusnahan terhadap barang bukti tersebut dilakukan di Kantor Karantina Satuan Pelayanan Pelabuhan Tanjung Buton, Siak Riau pada 8 Mei 2024 dengan cara dibakar dan dikubur. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi atau menyebarnya hama dan penyakit yang ada dalam komoditas tersebut ke lingkungan sekitar. 


Menurut Almen, komoditas yang biasa dijadikan bumbu masak tersebut selain tidak dilaporkan ke petugas karantina, juga tidak dilengkapi dokumen karantina dari daerah asal, serta tidak melalui tempat pemasukan yang ditetapkan. 


Ia juga menyebut bahwa baik pengirim maupun penerima, hingga kini tidak dapat dihubungi. Setelah memberikan waktu selama 3 hari, baik pemilik maupun penerima juga tidak kunjung melapor ke karantina. Sehingga terhadap media pembawa tersebut dilakukan tindakan karantina pemusnahan.


Sedangkan informasi dari pemilik kapal, ia mengaku hanya memberikan jasa kiriman pada paket tersebut, sedangkan asal usul barang dan tujuan distribusinya, ia tidak mengetahuinya.


Atas kejadian itu, Karantina Riau terus menggali informasi dan mengembangkan kasus tersebut. Menurut Almen, kasus tersebut tergolong baru muncul kembali setelah terakhir terjadi pada tahun 2021. Almen mengingatkan agar masyarakat tidak mendukung kegiatan ilegal tersebut, karena berisiko tinggi terhadap masuk dan tersebarnya hama penyakit ke Indonesia dari luar negeri. 


Tindakan tersebut juga melanggar Pasal 88, Undang-Undang No 21 tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Sehingga dapat dikenai tindakan pidana penjara paling lama 2 tahun serta pidana denda paling banyak Rp 2 miliar.


Sahat M. Panggabean, Kepala Badan Karantina Indonesia di Jakarta mengapresiasi tindakan tersebut. Menurutnya upaya penindakan tersebut sejalan dengan dengan misi Badan Karantina Indonesia dalam melindungi sumber daya alam hayati Indonesia juga mendukung upaya Presiden Jokowi dalam rangka penguatan ketahanan pangan nasional.


Sahat juga mengapresiasi masyarakat yang turut memberikan informasi, juga para pemangku kepentingan terkait yang selalu mundukung upaya tindakan karantina tersebut.


Hadir dalam acara pemusnahan tersebut perwakilan dari Kejaksaan Negeri Siak, Polsek Sei Apit, Polair Tanjung Buton, KSOP Tanjung Buton, Kepala Kampung Mengkapan serta perwakilan masyarakat setempat.


"Ya ini tentu bahaya, kan kita ada bawang asli Brebes misalnya, ini sudah dikembangkan dimana-mana, meski barangnya tadi baru sampai Riau, tapi namanya serangga atau hama penyakit, kan bisa menyebar dengan cepat, jadi kalau karantina tidak melakukan pengawasan atau tindakan karantina, ini akan bisa berbahaya, yaitu bisa mengancam sumber daya bawang lokal kita," pungkas Sahat. (*)


Siaran Pers Badan Karantina Indonesia

No. 0305/R-Barantin/05.2024

Riau, 10 Mei 2024


Author : Humas