Sahat : Humas Karantina Harus Bisa Memperkuat "Branding" Barantin Sebagai Instansi Yang KUAT

Bekasi - Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M Panggaean menyebutkan bahwa pelaksana humas Barantin harus dapat mengomunikasikan pesan kebijakan lembaga kepada masyarakat, baik internal maupun eksternal guna memperkuat "branding" Barantin sebagai instansi yang Kompeten, Unggul, Amanah dan Tangguh, atau “KUAT”. Pesan tersebut di sampaikan Pak Sahat Ketika membuka Bimbingan Teknis Kehumasan pada Senin, 27 Mei 2024.


Oleh karena itu, menurutnya seorang praktisi humas harus memiliki banyak kemampuan, baik soft skill maupun hard skill. Ia menjelaskan bahwa kompetensi kehumasan membutuhkan kombinasi yang unik antara pengetahuan teknis komunikasi publik, nalar, intuisi, empati, emosi, juga kreativitas.

 

"Dan yang terpenting, teman-teman humasan ini harus paham, tau dan mengerti tentang kebijakan, peraturan dan informasi terkini, tentunya tentang kekarantinaan," jelas Sahat. 


Dalam sambutannya tersebut ia juga meminta agar humas Barantin berkolaborasi dengan humas di kementerian dan lembaga terkait, selain untuk meningkatkan kapasitas kinerja juga untuk memperkuat strategi jangkauan informasi bagi masyarakat.


Selain itu, ia juga berharap, melalui bimbingan teknis kehumasan yang dilaksanakan tersebut, petugas dapat memahami dan memanfaatkan kemajuan teknologi serta terampil dalam menulis. Karena, menurutnya, peran humas sangat besar, karena sebagus apapun citra dan kerja positif di Badan Karantina Indonesia tidak akan dapat diketahui oleh publik dan khalayak ramai tanpa peranan humas.


Bimbingan teknik kehumasan dilaksanakan dari tanggal 27 sampai 29 Mei, yang diisi berbagai materi seperti teknik penulisan berita oleh jurnalis detik.com, strategi pengelolaan layanan dan komunikasi publik humas pemerintah oleh Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden Deputi IV, strategi media relations oleh humas dari Kementerian PUPR serta kunjungan media ke TVOne dan MetroTV. Selain itu diisi juga dengan strategi penderasan isu terkait korupsi, kolusi dan nepotisme dari KPK.


"Oleh karena itu, teman-teman ini harus terus mengupgrade ilmu, punya insting yang tajam, banyak membaca, mendengar juga misalnya menulis. Pekerjaan kalian ini berkaitan langsung dengan para pimpinan dalam pelaksanaan tugas fungsi organisasi," pungkas Sahat. (*)


Author : Humas