Gelar Temu Teknis, Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Identifikasi Permasalahan

Semarang – Demi meningkatkan pelayanan dan memperkuat sistem perkarantinaan, Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Badan Karantina Indonesia berhasil mengidentifikasi enam permasalahan teknis dari hasil Pertemuan Teknis Karantina Tumbuhan Wilayah Jawa.


“Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, Badan Karantina Indonesia menghadapi berbagai ancaman. Di antaranya pencegahan masuk, keluar, dan tersebarnya OPT/OPTK (Organisme Pengganggu Tumbuhan/Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina), perdagangan ilegal, bioterorisme, dan perdagangan global,” kata Deputi Bidang Karantina Tumbuhan, Bambang, dalam pembukaan Pertemuan Teknis Karantina Tumbuhan Wilayah Jawa di Aula Kantor Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina Jawa Tengah), Kamis (30/5) malam. 




Lebih lanjut Bambang mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu segera ditindaklanjuti dalam penyelenggaraan karantina tumbuhan. Hasil pertemuan teknis yang berlangsung hingga Jumat (31/5) petang, berhasil mengidentifikasi enam permasalahan terkait penyelenggaraan perkarantinaan tumbuhan, antara lain masih banyaknya notifikasi ketidaksesuaian atau Notification of Non-Compliance (NNC) serta belum terbangunnya sistem perkarantinaan berbasis kawasan dalam rangka peningkatan efektivitas penyelenggaraan perkarantinaan.


“Kerja sama karantina dengan pemerintah daerah setempat dalam memperkuat penyelenggaraan perkarantinaan di setiap kawasan masih perlu dibangun. Termasuk optimalisasi penyelenggaraan perkarantinaan pre-border untuk ekspor dan impor dan upaya mitigasi risiko yang dapat ditingkatkan melalui kerja sama dengan entititas di dalam negeri serta National Plant Protection Organization (NPPO) negara asal,” jelas Bambang.