Jelang Iduladha, Karantina Sumsel Pastikan Ribuan Ekor Hewan Kurban Sehat Dikirim ke Bangka Belitung

Banyuasin – Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Sumatera Selatan memastikan kesehatan ribuan ekor hewan kurban sebelum dikirim ke Bangka Belitung. Pemeriksaan hewan kurban, berupa sapi dan kambing, untuk memastikan bebas dari penyakit menular, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan penyakit kulit berbenjol atau ‘Lumpy Skin Disease’ (LSD).


“Pemeriksaan karantina meliputi fisik dan kelengkapan dokumen, serta ‘eartag’ pada hewan yang dilalulintaskan. Petugas Karantina memastikan hewan yang dapat dikirim antarpulau, dari Pelabuhan Tanjung Api-Api ke Bangka Belitung, sehat dan dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan Karantina Sumatera Selatan,” ujar Kepala Karantina Sumatera Selatan Kostan Manalu dalam siaran pers, Rabu (5/6).


Karantina Sumatera Selatan terus berkoordinasi dengan instansi terkait dalam pengawasan lalu lintas hewan. Hal demikian, menurut Kostan untuk memastikan hewan kurban telah lapor karantina. Ini sejalan dengan arahan Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean, pentingnya kolaborasi dan sinergisitas untuk melindungi sumber daya alam hayati dari ancaman hama dan penyakit. “Karantina bertugas memastikan kesehatan komoditas pertanian dan perikanan di border, termasuk hewan kurban,” ungkapnya.




Kostan mengimbau kepada masyarakat untuk memerhatikan kesehatan hewan kurban. "Pastikan bebas dari PMK. Adapun gejala terserang PMK, yaitu keluar lendir dari mulut dan hidung, lepuh pada mulut dan erosi seperti sariawan," jelasnya.


Ia menambahkan untuk penyakit LSD dapat dilihat jelas dengan bentol-bentol pada kulit sebesar kelereng. Melalui informasi tanda gejala penyakit, harapannya semua hewan kurban yang diperdagangkan sehat dan memenuhi syarat, sehingga penyembelihan pada Iduladha dapat berjalan dengan lancar tanpa menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.


Ketua Tim Kerja Karantina Hewan Karantina Sumsel, Catur Setiawan, menambahkan bahwa sapi dan kambing harus dilengkapi dengan sertifikat veteriner, hasil laboratorium uji Rose Bengal Test (RBT), dan PMK bila belum vaksin. Selain itu, petugas Karantina memindai kode batang pada ‘eartag’ untuk memastikan keaslian dan validasi data hewan.


Peningkatan Volume Lalu Lintas


Momen Iduladha berdampak terhadap peningkatan volume lalu lintas hewan kurban, sapi dan kambing. Hal ini juga terjadi di Satuan Pelayanan Pelabuhan Tanjung Api-Api. Jumlah hewan kurban trennya meningkat dari Maret hingga awal Juni ini.


"Berdasarkan data IQFast (Indonesian Quarantine Full Automation System), mulai 17 Mei hingga 3 Juni 2024, Karantina Sumsel telah memeriksa sebanyak 4.013 ekor kambing dan 1.686 ekor sapi. Semuanya dalam kondisi sehat. Demi menjaga penerapan biosekuriti, petugas Karantina juga melakukan disinfeksi pada alat angkut hewan kurban," tutur Kostan.




Lalu lintas sapi dan kambing potong, Kostan menjelaskan, trennya mengalami kenaikan. Pada Maret jumlah lalu lintas sebanyak 1.769 ekor, terdiri dari sapi 1.419 ekor dan kambing 350 ekor. Sedangkan pada April meningkat sebesar 90,72% atau 3.374 ekor, sapi 1.659 ekor dan kambing 1.715. Pada Mei meningkat sebesar 97,24% atau sebanyak 6.655, sapi potong 1.555 ekor dan kambing potong 5.100 ekor. 


“Kami mengapresiasi pelaku usaha yang sadar untuk melaporkan hewan kurbannya sebelum melalulintaskan ke pulau lain. Kami pastikan hewan kurban yang dilalulintaskan memenuhi persyaratan,” tutup Kostan.


Narahubung:

Biro Hukum dan Humas

Sekretariat Utama Badan Karantina Indonesia

Badan Karantina Indonesia


Siaran Pers Badan Karantina Indonesia


Nomor: 0406/R-Barantin/06.2024

Banyuasin, 5 Juni 2024


Author : Humas