Logo

Ekspor Florikultura RI Tembus Rp3,51 Triliun, Karding: Bukan Sekadar Hobi, Ini Peluang

17 September 2026
164 dibaca
Ekspor Florikultura RI Tembus Rp3,51 Triliun, Karding: Bukan Sekadar Hobi, Ini Peluang

Kontributor

Qory FK
Penulis
Qory FK
Usep Usman N.
Fotografer
Usep Usman N.

Tangerang - Nilai ekspor komoditas florikultura Indonesia mencapai Rp3,51 triliun sepanjang 1 Januari hingga 14 September 2026. Produk tersebut telah menjangkau 96 negara tujuan.

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengatakan, potensi tersebut menunjukkan bahwa tanaman hias dan florikultura tidak lagi bisa dipandang sebatas hobi.

"Keindahan tanaman harus mampu kita transformasikan menjadi nilai tambah dan daya saing Indonesia. Florikultura bukan sekadar hobi, melainkan bagian penting dari ekonomi hijau, industri kreatif, inovasi, penyerapan lapangan kerja, dan peluang ekspor nasional," ujar Karding saat membuka Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026 di Tangerang, Kamis (17/8).

Pameran florikultura internasional tersebut mengusung tema "United by Nature" dan mempertemukan berbagai unsur industri, mulai dari petani, breeder, nursery, pelaku usaha hingga pemerintah.

Menurut Karding, kolaborasi tersebut diperlukan agar besarnya biodiversitas dan potensi tanaman Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus memiliki daya saing di pasar internasional.

Berdasarkan data sistem layanan karantina Best Trust per 14 September 2026, nilai ekspor florikultura sepanjang 2025 tercatat Rp4,42 triliun dengan volume 93,9 juta komoditas yang dikirim ke 95 negara.

Sementara pada periode 1 Januari-14 September 2026, nilai ekspornya telah mencapai Rp3,51 triliun dengan volume 59,6 juta komoditas dan menjangkau 96 negara.

Sejumlah komoditas yang tercatat dalam ekspor tersebut antara lain bunga krisan, bibit krisan, bibit lilium, bibit Saintpaulia, tanaman akuarium, hingga berbagai bibit tanaman hias.

Barantin menilai pengembangan pasar florikultura perlu dibarengi pemenuhan persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan.

Hal tersebut penting karena perdagangan tanaman lintas negara tidak hanya menyangkut kepentingan ekonomi, tetapi juga risiko penyebaran organisme pengganggu tumbuhan serta perlindungan biodiversitas.

"Ketika tanaman Indonesia terbang ke luar negeri, yang kita bawa bukan sekadar komoditasnya, namun juga nama baik, reputasi, dan kepercayaan pasar dunia terhadap Indonesia," kata Karding.

Menurut Karding, peran karantina kini tidak hanya berkaitan dengan pengawasan lalu lintas komoditas. Barantin juga mendorong fasilitasi perdagangan dengan tetap menjalankan fungsi perlindungan keamanan hayati atau biosecurity.

Peran tersebut dilakukan melalui penguatan sistem berbasis risiko, integrasi layanan, serta pemanfaatan teknologi digital.

FLOII Expo 2026 juga menjadi momentum menjelang peringatan Hari Karantina Indonesia ke-149 dan HUT ke-3 Barantin yang jatuh pada 18 Oktober 2026.

Barantin berharap kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi dan komunitas dalam pameran tersebut dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk florikultura Indonesia tanpa mengabaikan perlindungan biodiversitas.

Narahubung:
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Utama Badan Karantina Indonesia

Siaran Pers Badan Karantina Indonesia

Nomor: 2209/R-Barantin/09.2026
Tangerang, 17 September 2026

Bagikan Berita