Karantina Gorontalo, melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) untuk memaparkan Hasil Kegiatan Pemantauan Daerah Sebar Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK). Acara yang dihadiri oleh perwakilan dari Dinas-Dinas terkait yang membidangi Kesehatan Hewan ini bertujuan untuk menyelaraskan upaya pencegahan masuk, keluar, dan tersebarnya HPHK dari wilayah Gorontalo. Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Karantina Gorontalo, Iswan Haryanto, menekankan pentingnya sinergi antarlembaga. "Kami berharap dengan dilaksanakannya FGD ini, kita dapat saling menyamakan persepsi dan memperkuat kolaborasi dalam upaya pencegahan penyebaran HPHK dari dan ke Gorontalo," ujar Iswan Haryanto.
Hasil pemantauan yang komprehensif tersebut kemudian dipaparkan oleh Ismah Atika Salmah, selaku Ketua Pemantauan dan Dokter Hewan Karantina Gorontalo. Ia menjelaskan bahwa dari hasil pengujian sampel darah Sapi, tidak ditemukan hasil positif Bovine Viral Diarrhea (BVD). Namun, temuan yang memerlukan perhatian serius adalah tingginya angka positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). "Kami menemukan 161 sampel positif PMK dari total 297 sampel yang telah diambil dan diuji. Angka ini menunjukkan bahwa PMK masih menjadi ancaman serius di wilayah ini," jelas Ismah Atika Salmah.
Lebih lanjut, berdasarkan hasil pemantauan secara tidak langsung yang dihimpun dari berbagai sumber data-termasuk pelaksanaan Tindakan Karantina, data dari BBVet Maros, UPTD Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, serta Dinas Kabupaten/Kota-telah teridentifikasi adanya HPHK lain di Provinsi Gorontalo. Data menunjukkan bahwa Rabies dan Brucellosis merupakan dua HPHK yang juga perlu diwaspadai, di samping PMK. Oleh karena itu, kolaborasi berkelanjutan antara Karantina Gorontalo dan seluruh pihak yang membidangi Peternakan dan Kesehatan Hewan di daerah ini menjadi krusial untuk melindungi populasi ternak dari ancaman HΡΗΚ.

