Logo

Mahasiswa Beraksi, Jaga Kelestarian Sumber Daya Alam Hayati

3 Juli 2026
95 dibaca
Mahasiswa Beraksi, Jaga Kelestarian Sumber Daya Alam Hayati

Kontributor

Qory FK
Penulis
Qory FK
Qory FK
Editor
Qory FK
Qory FK
Fotografer
Qory FK

Bogor - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding menyampaikan bahwa mahasiswa perlu turut andil dalam perlindungan sumber daya alam (SDA) hayati Indonesia. Hal tersebut karena SDA hayati Indonesia adalah sumber pangan dan sumber ekonomi masyarakat yang harus dijamin kelestariannya. Risiko masuknya hama dan penyakit tersebut dapat mengakibatkan ancaman bagi ketersediaan pangan, terganggunya sektor perekonomian, hilangnya tenaga kerja, ancaman kepunahan spesies asli nusantara, hingga bisa mengakibatkan korban jiwa. Demikian disampaikan Karding saat memberikan materi dihadapan lebih dari 200 mahasiswa di Bogor pada Kamis (2/7).

Menurutnya, kadang mahasiswa terjebak dalam "bahaya menara gading", dimana kampus menjadi tempat isolasi sosial. Ia menegaskan bahwa kampus tidak boleh mengasingkan mahasiswanya dari kenyataan pahit masyarakat sekitar.

Faktanya, dari data BPS angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi di th 2025 sebesar 32%. Yang dapat diartikan bahwa dari 100 anak muda Indonesia, hanya 32 orang yang dapat mencicipi bangku kuliah. Sementara 68 lainnya harus langsung masuk ke dunia kerja keras atau menganggur. Karding menyampaikan bahwa kuliah bukan sekadar membayar UKT, melainkan titipan harapan besar masyarakat. Dimana gelar mahasiswa adalah sebuah "privilese".

Sehingga mahasiswa punya "tanggung jawab sosial" untuk mengembalikan dampak ilmu ke masyarakat, seperti turut serta dalam perlindungan SDA hayati. Mengubah ilmu di ruang kelas menjadi aksi nyata, untuk memastikan dapur rakyat kecil tetap bisa mengepul dan pangan selalu tersedia. Beberapa hal yang bisa dilakukan mahasiswa dalam mendukung upaya tersebut diantaranya adalah :

  1. Menjadi Sahabat Karantina. Membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya karantina. Banyak warga negara yang masih abai melaporkan komoditas peternakan, pertanian atau perikanan yang mereka bawa saat bepergian demi kepraktisan.

  2. Dukungan Riset Terkini. Mahasiswa dapat melakukan riset atau kkerjasama untuk mendeteksi penyakit baru. Mahasiswa berkontribusi secara sosial melalui penelitian, magang, atau skripsi yang membantu Barantin memetakan risiko, menguji sampel penyakit, atau menciptakan inovasi teknologi deteksi cepat.

  3. Lapor Karantina. Jika mahasiswa menemukan indikasi penyelundupan hewan, pengiriman benih atau ikan ilegal yang berpotensi membawa penyakit, atau masuknya komoditas luar negeri tanpa dokumen resmi di daerahnya, mereka dapat menyampaikannya pada Barantin.

"Mahasiswa yang sukses bukan dilihat dari seberapa banyak yang dia punya, tapi dilihat dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan pada masyarakat," pungkas Karding.

Bagikan Berita