Logo

Transformasi Karantina Menuju Kelas Dunia

24 Februari 2026
0 dibaca
Transformasi Karantina Menuju Kelas Dunia

Kontributor

Jakarta, 23 Februari 2026 – Badan Karantina Indonesia menyelenggarakan Pertemuan Koordinasi bertajuk Integrated National Quarantine Biosecurity and Traceability pada 23–24 Februari 2026 di JHL Solitaire Gading Serpong, Tangerang, Banten. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan langkah transformasi sistem karantina nasional menuju standar internasional.

Pertemuan dibuka oleh Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama, dilanjutkan dengan arahan Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat Manaor Panggabean. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa program ini merupakan momentum penting untuk memperkuat sistem karantina Indonesia yang modern, terintegrasi, dan berdaya saing global.

“Pendanaan dari World Bank dan Islamic Development Bank adalah bentuk kepercayaan internasional yang harus kita jawab dengan kinerja akuntabel, transparan, dan berdampak nyata,” ujar Kepala Badan Karantina Indonesia dalam arahannya. Beliau menekankan bahwa keterbatasan anggaran dari APBN harus disiasati dengan pemanfaatan optimal dukungan global.

Program ini terbagi dalam empat klaster utama. Pertama, Instalasi Karantina Terintegrasi yang diharapkan menjadi branding Badan Karantina Indonesia. Kedua, Revitalisasi Laboratorium sebagai tulang punggung sistem karantina dengan standar akreditasi internasional. Ketiga, Digitalisasi dan Traceability untuk memastikan transparansi hulu-hilir dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Keempat, Pengembangan Kapasitas SDM agar pembangunan infrastruktur sejalan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Dalam sesi pemaparan, masing-masing klaster menyampaikan capaian dan rencana kerja. Direktur Standar Karantina Hewan memaparkan pengembangan instalasi terintegrasi, Kepala Balai Besar Uji Standar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan menjelaskan revitalisasi laboratorium, sementara Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi menekankan pentingnya digitalisasi layanan.

Kepala Pusat Pengembangan SDM Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan menambahkan bahwa penguatan kapasitas manusia menjadi kunci keberlanjutan program. “Pelatihan harus adaptif terhadap teknologi dan berorientasi pada standar global,” tegasnya.

Diskusi interaktif yang berlangsung pada hari pertama menghasilkan sejumlah rekomendasi, antara lain perlunya memperkuat sinergi lintas unit agar tidak terjadi silo antar-klaster, menjaga akuntabilitas sesuai standar, serta mengantisipasi manajemen risiko sejak awal. Fokus pada output dan outcome terukur juga menjadi perhatian utama.

Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia, Shahandra Hanitiyo, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum koordinasi, melainkan wadah untuk memperkuat pemahaman bersama dan komitmen kolektif dalam mendukung keberhasilan implementasi program.

Dengan kerja sama yang solid, Badan Karantina Indonesia optimis bahwa program ini akan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan sistem karantina nasional yang tangguh, modern, dan diakui dunia.

Bagikan Berita