Jakarta - Pengiriman 1.027 ton tepung tapioka dan minyak kelapa mentah senilai Rp10,9 miliar menjadi penanda terbukanya jalur baru bagi produk Sulawesi Tenggara menuju pasar internasional.
Produk hilirisasi pertanian tersebut dapat dikirim langsung dari Sulawesi Tenggara tanpa lebih dahulu melewati Makassar ataupun Surabaya seperti yang selama ini dilakukan.
Ekspor langsung itu dilepas dari fasilitas PT Agri Cassava Makmur di Kabupaten Konawe Selatan, Kamis lalu.
Komoditas yang dikirim terdiri dari 900 ton tepung tapioka senilai Rp7,3 miliar menuju China dan 127 ton minyak kelapa mentah senilai Rp3,6 miliar ke Malaysia.
Tepung tapioka diekspor oleh PT Agri Cassava Makmur, sedangkan minyak kelapa mentah dikirim PT Sofi Agro Industries.
Terbukanya jalur ekspor langsung menjadi momentum penting bagi Sulawesi Tenggara. Selain memperpendek perjalanan komoditas, jalur tersebut membuka peluang agar lebih banyak produk unggulan daerah dapat menjangkau pasar dunia dari wilayah asalnya.
Sebelumnya, komoditas asal Sulawesi Tenggara harus dikirim melalui daerah lain sebelum diberangkatkan ke negara tujuan. Rantai pengiriman yang lebih panjang menjadi salah satu tantangan bagi pelaku usaha dalam memperkuat daya saing produknya.
Ekspor langsung tepung tapioka dan minyak kelapa mentah menunjukkan bahwa produk hasil hilirisasi dari Sulawesi Tenggara telah mampu memenuhi persyaratan pasar internasional.
Barantin Pastikan Produk Memenuhi Persyaratan
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengatakan, ekspor langsung merupakan bagian dari upaya memperkuat daya saing komoditas daerah di pasar global.
Menurut Karding, pelayanan karantina tidak berhenti pada pemeriksaan komoditas di pintu keluar. Barantin juga memastikan produk memenuhi standar kesehatan, keamanan, dan ketertelusuran yang ditetapkan negara tujuan.
Pemenuhan persyaratan tersebut menentukan diterima atau tidaknya produk Indonesia di pasar internasional. Pasalnya, setiap negara mempunyai standar dan protokol pemasukan komoditas yang berbeda.
Dalam konteks perdagangan, Karding menyebut karantina dapat berperan sebagai instrumen ekonomi atau economic tools. Sertifikasi karantina bukan hanya untuk mencegah penyebaran hama dan penyakit, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga akses pasar.
Tanpa pemenuhan persyaratan negara tujuan, komoditas berisiko mengalami penolakan ketika tiba di negara mitra dagang.
Karena itu, pendampingan terhadap pelaku usaha menjadi penting sejak tahap persiapan hingga komoditas dinyatakan layak dikirim.
Nilai Sertifikasi Mencapai Rp593,54 Miliar
Potensi perdagangan komoditas Sulawesi Tenggara tidak hanya terlihat dari ekspor langsung tepung tapioka dan minyak kelapa mentah. Berdasarkan data sistem Best Trust Barantin, nilai komoditas yang mendapatkan sertifikasi karantina asal Sulawesi Tenggara sepanjang 2026 mencapai Rp593,54 miliar.
Angka tersebut menggambarkan besarnya pergerakan komoditas pertanian dan perikanan dari Sulawesi Tenggara sekaligus menunjukkan peluang pengembangan ekspor daerah.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Sulawesi Tenggara Jaelani menyatakan, pihaknya siap mendampingi pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan.
Pendampingan meliputi pemeriksaan, sertifikasi, serta pemenuhan protokol yang dipersyaratkan negara mitra dagang.Dukungan tersebut diperlukan agar pelaku usaha tidak hanya berhasil melakukan pengiriman perdana, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan ekspor.

Dorong Hilirisasi Komoditas Daerah
Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka menilai, ekspor langsung menjadi momentum untuk mendorong pengolahan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah.
Tepung tapioka dan minyak kelapa mentah memperlihatkan bahwa komoditas daerah tidak harus dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Pengolahan dapat meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperluas kesempatan produk memasuki pasar internasional.
Keberhasilan ekspor langsung juga diharapkan mendorong lebih banyak pelaku usaha Sulawesi Tenggara untuk mengembangkan produk berorientasi ekspor.
Pelepasan ekspor turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Bank Indonesia, Bea Cukai Kendari, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan, Pelindo, serta pelaku usaha.
Setelah jalur ekspor langsung terbuka, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi pengiriman. Ketersediaan bahan baku, mutu produk, kontinuitas produksi, dan kepatuhan terhadap persyaratan negara tujuan menjadi faktor yang perlu dijaga.
Dengan demikian, ekspor senilai Rp10,9 miliar tersebut bukan hanya menjadi catatan satu kali pengiriman. Momentum itu dapat menjadi jalan pembuka bagi lebih banyak produk Sulawesi Tenggara untuk berangkat langsung menuju pasar dunia.



