Badan Karantina Indonesia (BARANTIN) turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan IMO Marine Environment Protection Committee (MEPC) ke-84, khususnya dalam Ballast Water Review Group (BWRG) yang dilaksanakan secara hybrid dari Jakarta. Kegiatan ini difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan sebagai IMO Member state / Authorized Administration dan diselenggarakan pada 27 April–1 Mei 2026, dengan lokasi pelaksanaan di All Sedayu Hotel Kelapa Gading, Mall of Indonesia, Jakarta Utara, hybrid dari sidang internasional yang berlangsung di Markas Besar IMO, London.
Keterlibatan BARANTIN dalam forum ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi karantina dalam memperkuat sistem biosekuriti nasional melalui upaya pencegahan masuk dan tersebarnya penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan lintas batas (transboundary animal, fish, and plant diseases), serta pengendalian invasive alien species (IAS) yang berpotensi terbawa melalui media air balas kapal dan biofouling. Peran ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya mobilitas global dan risiko introduksi organisme akuatik berbahaya melalui jalur maritim.

Dalam Ballast Water Review Group, pembahasan berfokus pada finalisasi amandemen Konvensi Ballast Water Management (BWM), penyempurnaan BWMS Code, serta pengembangan berbagai pedoman teknis.
Delegasi BARANTIN mencatat bahwa standar internasional pengelolaan ballast water semakin ketat dan kompleks yang akan sekiranya akan diterapkan maka perlu kesiapan nasional, khususnya dalam penguatan kapasitas laboratorium untuk pengujian Disinfection by products (DBP), penyediaan data Challenging water quality (CWQ) pelabuhan, serta kesiapan galangan kapal dan operator kapal dalam memahami ketentuan baru. Isu exceptional uptake saat docking/undocking juga dinilai relevan bagi konteks nasional dan memerlukan perhatian dalam penyusunan pedoman teknis di tingkat domestik.
Berdasarkan hasil pembahasan tersebut, direkomendasikan perlunya penguatan koordinasi nasional dalam penyusunan posisi Indonesia pada Correspondence Group, inventarisasi sistem BWMS pada kapal berbendera Indonesia, peningkatan kapasitas laboratorium, serta pengembangan database CWQ pelabuhan nasional. Selain itu, diperlukan peningkatan pemahaman industri maritim terhadap regulasi baru serta penyiapan posisi strategis Indonesia dalam sidang MEPC selanjutnya.
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan BARANTIN, yaitu Desniwaty, Kurniadhi Prabandono, Jumadi, dan Inda Wahyuni. Partisipasi aktif ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam memperkuat maritime biosecurity serta memastikan bahwa kebijakan internasional yang berkembang dapat diimplementasikan secara efektif dalam mendukung perlindungan kesehatan hewan, ikan, tumbuhan, dan lingkungan secara berkelanjutan.



