Logo

Barantin-Pemprov Sulteng Kolaborasi Perluas Akses Pasar Ekspor Komoditas Lokal

7 September 2026
19 dibaca
Barantin-Pemprov Sulteng Kolaborasi Perluas Akses Pasar Ekspor Komoditas Lokal

Kontributor

Jakarta - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding menggelar pertemuan strategis dengan Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid di Jakarta pada Senin (7/9). Pertemuan ini fokus membahas sinergi untuk mendongkrak potensi ekspor komoditas agromaritim asal Sulteng ke pasar global.

“Sulteng menyimpan ragam potensi komoditas unggulan yang siap bersaing di mancanegara, mulai dari sarang burung walet, durian, kakao, kelapa, hingga produk perikanan seperti tuna loin dan kepiting bakau, sehingga diperlukan adanya perluasan akses pasar untuk menampung potensi ini,” ungkap Karding.

Berdasarkan data lalu lintas komoditas Barantin periode Januari hingga September 2026, volume ekspor komoditas tumbuhan Sulteng didominasi oleh kelapa bulat yang mencapai 39,15 juta kg ke Tiongkok, Thailand, Hong Kong, dan Vietnam, serta bungkil kelapa sebanyak 8,98 juta kg ke India. Sementara di sektor perikanan, ekspor kerang dara mencapai 60.310 kg dan ikan tuna sebanyak 23.676 kg.

Secara khusus, Karding menyoroti capaian luar biasa dari komoditas durian asal Parigi Moutong yang sukses menembus pasar Tiongkok dengan total volume mencapai 8.162,7 ton.

"Keberhasilan ekspor durian Parigi Moutong ke Tiongkok hingga 8.162,7 ton ini bisa terwujud melalui registrasi kebun dan rumah kemas, penguatan sistem jaminan mutu, serta penerapan sistem ketertelusuran yang sesuai dengan standar GACC," jelas Karding.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sulteng Anwar Hafid menyambut baik dukungan penuh dari Barantin. Ia menekankan pentingnya pendampingan agar para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta petani lokal di daerahnya bisa menembus pasar internasional tanpa terkendala aturan karantina.

"Kami menginginkan adanya akselerasi ekspor UMKM dan produk lokal di Sulawesi Tengah. Potensi kita melimpah, namun para pelaku UMKM, petani, dan nelayan membutuhkan pendampingan serta kemudahan akses agar produk-produk unggulan kita memenuhi standar karantina dan keamanan pangan internasional," ujar Anwar Hafid.

Meski demikian, Karding membeberkan sejumlah tantangan yang harus dihadapi para pelaku usaha di Sulteng terkait ketatnya standar negara tujuan ekspor.

"Tantangan akses pasar global saat ini adalah semakin ketatnya persyaratan kesehatan hewan, ikan, tumbuhan, keamanan pangan, residu, serta ketertelusuran produk. Konsekuensinya, jika persyaratan tidak dipenuhi, bisa terjadi penolakan, pengembalian, pembatasan akses pasar, hingga pemusnahan produk," tegas Karding.

Merespons tantangan tersebut, Barantin bersama Pemprov Sulteng menyepakati kolaborasi, mulai dari pengembangan kawasan produksi hingga pengawasan sertifikasi. Karding menegaskan langkah ini akan ditindaklanjuti dengan penguatan sentra produksi berorientasi ekspor, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta penyediaan klinik ekspor untuk mendorong kesejahteraan masyarakat Sulteng.

Bagikan Berita