Bekasi — Badan Karantina Indonesia (Barantin) menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem keamanan pangan regional melalui penyelenggaraan Food Safety Laboratory Management Workshop yang merupakan bagian dari CanSafe Project – Phase 1. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk meningkatkan kapasitas laboratorium dan memperkuat kerja sama antarnegara di kawasan ASEAN.
Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara ASEAN dan Kanada dalam kerangka penguatan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), khususnya pada aspek Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS). Kerja sama tersebut menekankan pentingnya penguatan ekonomi yang tetap mengedepankan perlindungan kesehatan manusia, hewan, ikan, dan tumbuhan, serta kelestarian lingkungan.
“Keamanan pangan menjadi isu strategis di kawasan ASEAN, baik dalam perdagangan intra-regional maupun dalam pemenuhan kebutuhan pangan dari luar kawasan. Tantangan global seperti cemaran pangan, termasuk antimicrobial resistance (AMR), memerlukan penguatan sistem pengujian laboratorium yang andal dan terstandar,” ujar Sahat, pada Senin (20/4).
Dalam kesempatan yang sama, Executive Director, Indo-Pacific Agriculture and Agrofood, Diedrah Kelly menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan keamanan pangan global.
Dalam kesempatan yang sama, Agricultural Counsellor Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia, Jasmine Lebelle, menyebutkan bahwa pihaknya mengapresiasi kerja sama yang turut diinisiasi Indonesia, khususnya Barantin selaku tuan rumah.
“Kanada bangga dapat bermitra dengan ASEAN, termasuk Indonesia, dalam memperkuat sistem keamanan pangan. Melalui inisiatif seperti CanSafe Project, kami mendorong pertukaran keahlian dan praktik terbaik guna memastikan sistem laboratorium yang kuat, transparan, dan berbasis standar internasional,” ujar Lebelle.
Workshop ini akan berlangsung hingga Kamis (23/4) dan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Pemerintah Kanada, Canadian Food Inspection Agency (CFIA), Indo-Pacific Agriculture and Agri-Food Office (IPAAO), Centre for Agriculture and Bioscience International (CABI), Sekretariat ASEAN, serta delegasi dari semua negara anggota ASEAN.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat saling bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan laboratorium keamanan pangan, termasuk penerapan standar internasional dan peningkatan kompetensi analis laboratorium. Selain itu, workshop ini juga menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia guna mendukung kelancaran perdagangan global tanpa mengabaikan aspek perlindungan kesehatan.
Sahat juga menegaskan bahwa laboratorium keamanan pangan memiliki peran penting dalam memastikan setiap kebijakan berbasis pada data ilmiah yang akurat, dapat ditelusuri, dan memenuhi standar manajemen laboratorium yang terjamin kualitasnya.
“Penguatan kapasitas manajemen laboratorium, penerapan standar internasional, serta peningkatan kompetensi analis menjadi kunci dalam membangun sistem keamanan pangan yang tangguh,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sahat juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, khususnya Sekretariat ASEAN, Pemerintah Kanada, IPAAO, CFIA, CABI, serta seluruh panitia dan mitra kerja.
Workshop ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata dalam memperkuat sistem keamanan pangan di kawasan ASEAN serta meningkatkan kepercayaan dalam perdagangan pangan global.
“Barantin terbuka terhadap kerja sama ilmiah di bidang biosekuriti di masa depan guna mendukung sistem keamanan pangan yang berkelanjutan,” pungkas Sahat.
Siaran Pers Badan Karantina Indonesia
Nomor: 2204/R-Barantin/04.2026
Bekasi, 20 April 2026


