Medan - Pelepah sawit yang selama ini mudah ditemukan di kawasan perkebunan ternyata menyimpan peluang ekspor. Setelah melalui proses penyerutan, pengeringan hingga penyortiran, lidi sawit asal Sumatera Utara dapat dikirim hingga pasar China, India, dan Pakistan.
Namun, menyiapkan lidi untuk ekspor ternyata tak sesederhana mengeringkannya lalu memasukkannya ke dalam karung.
CEO dan Founder PT Arra Setya Abadi Ilham Setiadi mengatakan, perbedaan negara tujuan menentukan spesifikasi lidi yang harus disiapkan eksportir.
Pengalamannya membangun bisnis tersebut dibagikan dalam Webseries Go Ekspor Barantin #10 bertajuk "Lidi Sumut Tembus Pasar Dunia", yang digelar Karantina Sumatera Utara, Rabu (16/9).
Ilham mengatakan, ketertarikannya terhadap bisnis lidi berawal dari riset mencari komoditas yang bahan bakunya melimpah dan relatif mudah dikembangkan oleh UMKM.
Sebelumnya, PT Arra Setya Abadi bergerak di sejumlah komoditas kelapa dan produk turunannya, seperti fiber, arang, kopra hingga cocovit.
Namun, ia melihat beberapa produk tersebut membutuhkan modal cukup besar bagi UMKM serta proses produksi yang relatif panjang. Dari riset yang dilakukannya, Ilham kemudian menemukan potensi pada lidi.
Bahan bakunya melimpah di kawasan sentra perkebunan sawit seperti Sumatera Utara, Aceh dan Riau. Sumatera Utara juga memiliki akses pelabuhan yang mendukung pengiriman komoditas langsung ke luar negeri.
Dari sejumlah komoditas yang dipelajarinya, lidi kemudian menjadi salah satu produk yang dinilai potensial dikembangkan UMKM sejak 2023.

Dari Pelepah, Dijemur hingga Tiga Hari
Menurut Ilham, proses produksi dimulai dari pelepah sawit. Daun dipisahkan dari batang lidi menggunakan pisau serut maupun alat yang biasa digunakan masyarakat di daerah.Setelah diserut, lidi tidak bisa langsung dikemas.
Lidi terlebih dahulu diikat dalam ukuran sekitar 200-300 gram, kemudian disebar menyerupai kipas dan dijemur selama dua hingga tiga hari di bawah sinar matahari langsung.
Tahapan tersebut menjadi salah satu bagian terpenting dalam menyiapkan lidi untuk ekspor. Pasalnya, perjalanan menuju negara pembeli membutuhkan waktu cukup panjang.
Berdasarkan pengalaman Ilham, perjalanan menuju China dapat memakan waktu sekitar satu hingga dua minggu. Sementara pengiriman menuju India dan Pakistan dapat berlangsung dua hingga tiga minggu, bahkan mencapai satu bulan.
Lidi yang belum benar-benar kering berisiko mengalami kerusakan selama perjalanan. Kelembapan dapat menyebabkan lidi berjamur, berubah warna menjadi hitam hingga lapuk ketika tiba di negara tujuan.
Jika kualitas barang menurun, eksportir juga berisiko mendapatkan potongan pembayaran dari pembeli. Karena itu, Ilham menyebut tingkat kekeringan menjadi salah satu faktor penting sebelum produk dikirim.
China dan Pakistan Minta Spesifikasi Berbeda
Setelah kering, lidi kembali disortir berdasarkan ukuran, warna, kondisi pangkal hingga spesifikasi pembeli.
Untuk Pakistan, misalnya, lidi sawit reguler memiliki panjang sekitar 110-120 sentimeter, berwarna coklat kekuningan dengan tingkat kekeringan sekitar 90 persen. Bagian bonggol atau pangkal lidi masih dipertahankan.
Spesifikasi berbeda ditemukan pada pasar China yang menjadi salah satu fokus ekspor Ilham.
Menurut dia, pembeli di China antara lain menerima lidi sawit kombinasi dengan potongan runcing dan rata serta lidi dengan bagian pangkal dipotong rata dan rapi.
Panjangnya mulai sekitar 90 sentimeter dengan warna cerah kuning kecoklatan dan tingkat kekeringan sekitar 90 persen.

Lidi yang telah lolos penyortiran selanjutnya dikemas menggunakan karung berkapasitas sekitar 30 kilogram atau 50 kilogram.
Lidi disusun secara merata dan diikat dengan bantuan alat sebelum dimasukkan ke dalam karung dan dijahit rapat.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa produk sederhana seperti lidi tetap membutuhkan standardisasi agar dapat diterima pembeli di luar negeri.
Melalui Go Ekspor Barantin, pengalaman pelaku usaha tersebut dipertemukan dengan pendampingan Karantina Sumatera Utara mengenai persyaratan karantina yang harus dipenuhi sebelum komoditas dikirim ke luar negeri.
Bagi Ilham, melimpahnya sumber daya perkebunan di Sumatera Utara membuka kesempatan bagi UMKM untuk mencari nilai ekonomi bukan hanya dari produk utama kelapa sawit.
Pelepah yang diolah dan memenuhi spesifikasi pembeli pun dapat menjadi komoditas yang memiliki pasar hingga ke luar negeri.



