Logo

Kepala Barantin Dorong Mahasiswa Undip Tangkap Peluang Hilirisasi

24 Agustus 2026
94 dibaca
Kepala Barantin Dorong Mahasiswa Undip Tangkap Peluang Hilirisasi

Kontributor

Penulis
Wem
Qory FK
Editor
Qory FK
Qory FK
Fotografer
Qory FK

Semarang - Lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar bukan satu-satunya jalan bagi mahasiswa untuk membangun masa depan.

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mendorong mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) melihat kekayaan sumber daya Indonesia sebagai peluang untuk membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja.

Menurut Karding, perubahan paradigma tersebut penting di tengah agenda hilirisasi nasional yang membuka ruang besar bagi pengembangan produk bernilai tambah.

Hal itu disampaikan Karding saat menghadiri Upacara Penarikan Kembali dan Gelar Karya Mahasiswa KKN Undip di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (21/8/2026).

Sekitar 1.000 mahasiswa Undip sebelumnya menjalankan KKN di 453 desa yang tersebar di 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Karding mengatakan pengalaman mahasiswa bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat selama KKN seharusnya dapat menjadi pintu masuk untuk melihat peluang usaha.

"Potensi sumber daya alam Nusantara yang melimpah justru membuka ruang wirausaha berbasis teknologi dan inovasi," kata Karding.

Ia menilai peluang tersebut semakin besar seiring berkembangnya agenda hilirisasi nasional yang tidak hanya mencakup sektor pertambangan, tetapi juga perkebunan, kelautan, pertanian, hingga ekonomi hijau.

Indonesia, kata Karding, memiliki posisi penting dalam rantai pasok global. Cadangan nikel Indonesia disebut mencapai sekitar 55 juta metrik ton atau sekitar 42 persen dari cadangan dunia.

Di sektor komoditas, ekspor batu bara dan minyak kelapa sawit juga memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Menurut dia, tantangannya kini adalah bagaimana sumber daya tersebut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

"Mahasiswa dan alumnus Undip harus bisa menjadi bagian dari proses itu. Jangan hanya melihat sumber daya sebagai komoditas, tetapi lihat apa yang bisa diciptakan dari komoditas tersebut," ujarnya.

Karding mencontohkan sejumlah peluang usaha yang dapat dikembangkan melalui inovasi sederhana.

Limbah sawit, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk maupun briket. Di sektor perikanan, mahasiswa dapat mengembangkan cool box berinsulasi lokal untuk membantu nelayan tradisional menjaga kualitas hasil tangkapan.

Sementara di sektor energi, teknologi digester biogas rumah tangga dapat dikembangkan untuk memanfaatkan limbah sekaligus menghasilkan sumber energi alternatif.

Berbagai inovasi tersebut, menurut Karding, menunjukkan bahwa peluang ekonomi tidak selalu berada di pusat-pusat industri atau perusahaan besar.

Desa dan daerah justru menyimpan banyak persoalan sekaligus bahan baku inovasi yang dapat dikembangkan menjadi usaha.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa menjadikan pengalaman KKN sebagai kesempatan untuk menemukan kebutuhan pasar sekaligus menguji gagasan bisnis.

"Jangan berpikir bahwa setelah lulus hanya ada satu pilihan, yaitu mencari pekerjaan. Kita juga harus berpikir bagaimana menciptakan pekerjaan," kata Karding.

Ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk mempertemukan pengetahuan, teknologi, kebutuhan masyarakat, dan peluang bisnis.

Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian mahasiswa tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat berkembang menjadi produk, teknologi, maupun model bisnis yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Karding berharap mahasiswa Undip dapat menjadi generasi yang tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, tetapi juga mampu membaca peluang Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.

"Dunia kerja saat ini membutuhkan integritas, kompetensi nyata, adaptasi teknologi, serta wawasan global agar tidak melihat persoalan hanya dari ruang sempit," pungkas Karding.

Bagikan Berita