Logo

Pulihkan Peternakan Babi Sulawesi Utara Pasca Wabah ASF, Komisi IV dan Barantin Perkuat Breeding-Biosekuriti

10 Oktober 2026
29 dibaca
Pulihkan Peternakan Babi Sulawesi Utara Pasca Wabah ASF, Komisi IV dan Barantin Perkuat Breeding-Biosekuriti

Penguatan kualitas genetik dan biosekuriti dinilai menjadi dua kunci untuk memulihkan sekaligus meningkatkan produktivitas peternakan babi di Sulawesi Utara setelah wilayah tersebut terdampak African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika pada 2023.

Hal tersebut menjadi perhatian Komisi IV DPR RI bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) saat melakukan kunjungan kerja reses ke PT SOW di Minahasa Utara, Jumat (9/10). Fasilitas peternakan tersebut juga berstatus sebagai Instalasi Karantina Hewan (IKH), sehingga penerapan biosekuriti dan pengawasan kesehatan ternak menjadi bagian penting dalam operasionalnya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman mengatakan, pemulihan peternakan babi Sulawesi Utara harus dilakukan dengan memperkuat kualitas bibit sekaligus mencegah penyakit kembali mengganggu populasi ternak.

Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin Sriyanto mengatakan, peningkatan produktivitas ternak harus berjalan beriringan dengan pengawasan pergerakan hewan antarwilayah. Pelabuhan dan bandara menjadi titik penting untuk mengawasi lalu lintas ternak maupun produk hewan agar tidak menjadi jalur penyebaran penyakit.

“Prinsip karantina untuk lalu lintas ternak babi adalah ketertelusuran atau traceability dan analisis risiko. Pengawasan karantina dilakukan untuk memastikan bahwa hewan yang dikirim berasal dari daerah yang aman serta memenuhi seluruh persyaratan dokumen dan persyaratan teknis,” ujar Sriyanto.

Ketertelusuran menjadi penting karena petugas perlu mengetahui asal ternak, kondisi kesehatan, serta wilayah tujuan sebelum hewan dilalulintaskan. Jika ternak berasal dari wilayah yang memiliki status kesehatan sesuai persyaratan dan seluruh ketentuan teknis terpenuhi, lalu lintas dapat dilakukan sesuai regulasi yang berlaku.

ASF menjadi perhatian karena penyebaran penyakit dapat berdampak terhadap populasi dan keberlangsungan usaha peternakan babi. Karena itu, biosekuriti tidak hanya diterapkan di peternakan, tetapi juga diperkuat sepanjang rantai pergerakan ternak.

#BalaiKarantinaSulawesiUtara#pelindunganmaksimalpelayananoptimal

Bagikan Berita