Logo

Barantin Gandeng FAO, Indonesia Bidik Jadi Pusat Biosekuriti Regional

4 Juni 2026
91 dibaca
Barantin Gandeng FAO, Indonesia Bidik Jadi Pusat Biosekuriti Regional

Kontributor

Penulis
Patricia
Editor
Patricia
Hadi Hidayat
Fotografer
Hadi Hidayat

Jakarta — Badan Karantina Indonesia (Barantin) dan Food and Agriculture Organization (FAO) memperkuat kerja sama di bidang biosekuriti untuk menghadapi meningkatnya ancaman penyakit hewan, penyakit tumbuhan, serta berbagai risiko biologis yang memengaruhi ketahanan pangan dan perdagangan internasional.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding dengan Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal di Jakarta, Kamis (4/6).

Dalam pertemuan itu, Karding menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan sistem karantina yang semakin kuat dan modern di tengah tingginya lalu lintas perdagangan dunia serta meningkatnya ancaman hama dan penyakit lintas negara.

"FAO merupakan mitra penting bagi Indonesia. Pengalaman dan jaringan yang dimiliki FAO sangat dibutuhkan untuk memperkuat sistem biosekuriti nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global," kata Karding.

Menurut dia, tugas karantina saat ini tidak lagi sebatas memeriksa komoditas yang keluar dan masuk wilayah Indonesia. Karantina juga berperan menjaga ketahanan pangan, melindungi sumber daya hayati, serta memastikan perdagangan berlangsung aman dan sesuai standar internasional.

Karena itu, Barantin mendorong penguatan kerja sama dengan FAO dalam sejumlah bidang, mulai dari penguatan sistem biosekuriti, modernisasi laboratorium, peningkatan kapasitas surveilans dan peringatan dini, hingga pengembangan sistem ketertelusuran komoditas.

Karding juga berharap FAO dapat mendukung penyusunan Grand Desain Perkarantinaan Indonesia 2026–2050 yang akan menjadi arah pengembangan sistem karantina nasional dalam jangka panjang.

Selain itu, Barantin ingin memperluas kerja sama dengan berbagai organisasi internasional yang berada dalam jejaring FAO, termasuk di bidang kesehatan hewan, kesehatan tumbuhan, dan keamanan pangan.

Menurut Karding, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat penguatan biosekuriti di kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik. Posisi strategis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi menjadi modal penting untuk mengambil peran tersebut.

"Kami ingin sistem karantina Indonesia tidak hanya kuat untuk melindungi kepentingan nasional, tetapi juga mampu berkontribusi bagi penguatan biosekuriti kawasan," ujarnya.

Sementara itu, Rajendra Aryal menyambut baik komitmen Badan Karantina Indonesia dalam memperkuat biosekuriti nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi penting dalam mendukung ketahanan pangan, kesehatan hewan dan tumbuhan, serta perdagangan yang aman dan berkelanjutan di kawasan.

“Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis di kawasan dan merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Dalam konteks tersebut, fungsi karantina memegang peranan penting untuk melindungi sumber daya hayati, mendukung ketahanan pangan, dan memperkuat perdagangan yang aman. FAO meyakini bahwa kolaborasi yang kuat dengan Indonesia akan memberikan kontribusi besar bagi penguatan biosekuriti regional melalui pendekatan One Health dan kerja sama lintas sektor”, kata Rajendra Aryal.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara Barantin dan FAO dalam menghadapi berbagai tantangan biosekuriti yang semakin kompleks di tingkat global.

Narahubung:

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat

Sekretariat Utama Badan Karantina Indonesia

Bagikan Berita