Jakarta, 4/11/2026 – Dalam rangka memperkuat pengawasan kesehatan hewan dan mencegah penyebaran penyakit hewan, Karantina Jakarta melaksanakan kegiatan Pemantauan Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Tahun 2026 dengan target pemantauan Mycobacterium tuberculosis Complex (MTBC) pada sapi (bovine). Kegiatan ini dilaksanakan pada Oktober hingga November 2026. Pemantauan dilakukan di enam wilayah, yaitu DKI Jakarta, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang pada sapi perah dan sapi potong. Metode pengujian yang digunakan adalah tuberculin test.
Mycobacterium tuberculosis Complex (MTBC) merupakan penyebab tuberkulosis (TBC) pada hewan dan bersifat zoonosis atau dapat menular ke manusia. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi maupun konsumsi produk asal hewan yang tidak diolah dengan baik. Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tuberkulosis pada ternak juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi sektor peternakan akibat penurunan produktivitas dan gangguan kesehatan ternak. Oleh karena itu, pemantauan diperlukan untuk memperoleh gambaran situasi penyakit, mendeteksi potensi infeksi sejak dini, serta menjadi dasar dalam penyusunan langkah pengendalian dan mitigasi risiko.
Kepala Karantina Jakarta, Arum Kusnila Dewi, menyampaikan bahwa kegiatan pemantauan ini merupakan bagian penting dari upaya memperkuat sistem pengawasan kesehatan hewan sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman penyakit zoonosis. “Pemantauan MTBC bovine ini penting untuk mengetahui gambaran kondisi kesehatan ternak di wilayah kerja Karantina Jakarta. Melalui kegiatan ini, kita berupaya mendeteksi potensi penyakit sejak dini, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan secara tepat. Mengingat penyakit ini bersifat zoonosis, pengawasan tidak hanya ditujukan untuk melindungi kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Melalui kegiatan Pemantauan HPHK Tahun 2026 ini, Karantina Jakarta berharap dapat memperoleh data dan informasi yang representatif mengenai keberadaan MTBC bovine di wilayah pemantauan. Hasil pengujian selanjutnya diharapkan menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam penguatan kebijakan pengawasan, surveilans, serta tindakan karantina berbasis analisis risiko.

