Jakarta - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding berhenti sejenak di sebuah stan kopi dalam gelaran Indonesia Quarantine Expo (IQExpo) 2026. Di sana, ia bertemu Penehas Balyo, pemuda asal Yahukimo, Papua Pegunungan, yang tengah memperkenalkan kopi dari tanah kelahirannya.
Percakapan keduanya berlangsung singkat. Hanya sekitar tiga hingga lima menit. Namun, pertanyaan sederhana Karding membuka cerita tentang perjuangan seorang mahasiswa yang menggantungkan sebagian harapannya pada penjualan kopi.
"Sudah semester berapa? Untuk apa uang hasil berjualan kopi digunakan?" tanya Karding.
Penehas menjelaskan bahwa dirinya kini menempuh semester VI jurusan teknik di Universitas Borobudur, Jakarta. Di sela-sela kesibukan kuliah, ia bekerja bersama kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bernama Koppak.
Uang yang diperolehnya dari berjualan kopi tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian ia sisihkan dan tabung untuk membantu membayar biaya kuliah.
Bagi Penehas, setiap gelas kopi yang terjual bukan semata urusan bisnis. Ada biaya pendidikan yang harus diperjuangkan dan masa depan yang perlahan sedang ia bangun. Itulah mengapa pertemuan singkat dengan Karding menjadi pengalaman yang berkesan.
"Saya senang, tadi Bapak sempat singgah. Tanya-tanya sedikit tentang aktivitas, jualan apa di sini," ucapnya dengan senyum.
Penehas hanya memiliki beberapa menit untuk bercerita. Namun, di balik percakapan singkat itu tersimpan perjalanan panjang yang bermula ribuan kilometer dari Jakarta. Di tanah kelahirannya, kopi tumbuh di kawasan pegunungan. Sebagian dipetik oleh petani yang harus menghadapi medan berat dan keterbatasan akses menuju lahan perkebunan.
Dari tangan para petani itulah kopi memulai perjalanannya hingga akhirnya sampai ke Jakarta.
Tujuh Hari di Laut
Selama sekitar dua setengah tahun bergabung dengan Koppak, Penehas ikut memperkenalkan cita rasa kopi Papua kepada pembeli di kawasan Smesco, Jakarta.
Kopi yang dipasarkan berasal dari sejumlah wilayah di Papua, antara lain Pegunungan Bintang, Timika, Paniai, Jayawijaya, dan Lanny Jaya.
Setelah dipetik dan disiapkan untuk dikirim, kopi tersebut menempuh perjalanan menggunakan kapal laut menuju Jakarta. Waktu pengiriman bisa mencapai tujuh hingga sepuluh hari, bergantung pada perjalanan dan kondisi pengangkutan.
Artinya, sebelum tersaji di meja pembeli, kopi itu telah melewati perjalanan panjang dari kawasan pegunungan, jalur distribusi antardaerah, hingga pusat perdagangan di ibu kota. Di gerai Koppak, secangkir kopi dijual mulai Rp25.000. Sementara itu, kopi dalam kemasan dipasarkan seharga Rp120.000 per 100 gram.
Pilihan rasanya pun beragam. Ada perpaduan rasa manis dengan sentuhan cita rasa tumbuhan yang menjadi karakter beberapa kopi yang dipasarkannya.
Namun, bagi Penehas, nilai kopi Papua tidak berhenti pada aroma, rasa, ataupun harga jual. Di balik setiap kemasan terdapat kerja para petani dari daerah asalnya. Ada hasil bumi yang harus diperjuangkan agar bisa sampai ke tangan konsumen.
Penehas tidak ingin selamanya hanya menjadi penjual kopi Papua di Jakarta. Ia menyimpan keinginan agar suatu hari Papua Pegunungan memiliki fasilitas pengolahan kopi sendiri.
Dengan begitu, hasil panen para petani tidak harus seluruhnya bergantung pada proses pengolahan di luar daerah. Kopi dapat diolah lebih dahulu di tanah asalnya sebelum dikirim ke Jakarta maupun wilayah lain untuk dipasarkan.
Mimpi tersebut berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi petani. Di sejumlah wilayah Papua Pegunungan, akses jalan menuju kebun masih menjadi tantangan. Kondisi geografis yang berat membuat mobilitas petani dan pengangkutan hasil panen tidak selalu mudah.
Karena itu, Penehas berharap pembangunan industri pengolahan kopi dibarengi perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang menghubungkan kawasan perkebunan dengan jalur distribusi.
Bagi petani, jalan bukan sekadar sarana transportasi. Jalan yang lebih baik dapat memperlancar pengangkutan hasil panen, memperluas akses pasar, dan membuka peluang memperoleh nilai ekonomi lebih tinggi.
Ketika Petugas Karantina Harus Mencari Petani
Harapan Penehas ternyata bertemu dengan tantangan lain yang dihadapi Papua Pegunungan. Di wilayah itu, potensi kopi masih membutuhkan banyak dukungan agar dapat berkembang menjadi komoditas perdagangan yang lebih besar, terlebih untuk memasuki pasar ekspor.
Nina Damanik, Analis Perkarantinaan Tumbuhan Ahli Muda yang bertugas di Karantina Papua Pegunungan, memahami persoalan tersebut.
Menurut Nina, jumlah petani kopi di wilayahnya masih relatif terbatas. Produksi juga perlu terus ditingkatkan agar dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam skala lebih besar.
Kondisi tersebut membuat peran petugas karantina tidak cukup hanya menunggu komoditas datang untuk diperiksa.
Mereka juga berupaya mendatangi masyarakat, mencari potensi komoditas unggulan, dan membangun komunikasi dengan petani serta instansi terkait.
"Karantina mencari potensi, berkoordinasi, dan bertemu dengan petani supaya produksi meningkat," kata Nina.
Menurut dia, upaya pengembangan kopi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama pemerintah daerah dan dinas teknis yang berwenang dalam pembinaan produksi pertanian. Karantina dapat membantu dari sisi pendampingan persyaratan kesehatan tumbuhan dan kesiapan perdagangan, tetapi peningkatan produktivitas memerlukan dukungan yang lebih luas.
"Kita harus bangun koordinasi dengan dinas setempat. Kita hanya bisa mendorong," ujarnya.
Tantangan lain adalah memperkenalkan fungsi karantina kepada masyarakat. Sebagai daerah otonom baru, Papua Pegunungan masih menghadapi kebutuhan penguatan pelayanan dan pemahaman masyarakat terhadap sejumlah fungsi pemerintahan, termasuk perkarantinaan.
Nina bahkan memiliki pengalaman yang membuatnya tertawa ketika mengenangnya. Suatu ketika, di Bandara Wamena, petugas hendak memeriksa sayuran yang dibawa seorang ibu-ibu.
Bukannya langsung memahami pemeriksaan tersebut, perempuan itu justru memprotes petugas. "Apa itu karantina? Mau buat apa periksa-periksa sayur?" tutur Nina menirukan pertanyaan perempuan tersebut sambil tertawa.
Cerita itu terdengar sederhana, bahkan menggelitik. Namun, di baliknya tersimpan tantangan besar. Bagi sebagian masyarakat, pemeriksaan karantina masih terasa asing. Tidak semua orang memahami mengapa hasil pertanian yang mereka bawa perlu diperiksa sebelum dikirim ke daerah lain.
Padahal, pemeriksaan karantina merupakan bagian dari upaya mencegah penyebaran organisme pengganggu tumbuhan yang dapat merusak pertanian dan merugikan petani di wilayah tujuan. Bagi Nina dan rekan-rekannya, memperkenalkan karantina berarti juga membangun kepercayaan masyarakat.
Cerita Penehas dan Nina memperlihatkan dua sisi dari perjalanan kopi Papua. Di Jakarta, seorang mahasiswa berusaha memperkenalkan hasil bumi tanah kelahirannya sambil mengumpulkan uang untuk membayar kuliah. Di Papua Pegunungan, petugas karantina berupaya menjangkau petani, membangun koordinasi, dan memperkenalkan pentingnya persyaratan kesehatan tumbuhan.
Kedua cerita itu bertemu dalam semangat Indonesia Quarantine Expo (IQExpo) 2026 yang mengusung tema "Protecting Indonesia, Connecting the World". Ajang tersebut tidak sekadar menjadi tempat memamerkan komoditas unggulan, tetapi juga ruang untuk mempertemukan potensi daerah, pelaku UMKM, dan dukungan pemerintah dalam membuka akses pasar.
Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengatakan, peran karantina tidak lagi hanya berkaitan dengan pengawasan hama dan penyakit di pintu masuk dan keluar wilayah.
Barantin juga mendorong pelaku usaha agar memahami persyaratan karantina, ketertelusuran produk, serta ketentuan yang ditetapkan negara tujuan ekspor.
“Barantin hadir bukan untuk mempersulit, melainkan membentangkan ‘karpet merah’ bagi pelaku UMKM yang ingin menembus pasar ekspor,” ujar Karding saat membuka pameran (23/10).
Pada beberapa kesempatan terpisah, Karding juga menegaskan komitmen lembaganya memberikan pendampingan kepada UMKM yang memiliki produk potensial untuk memasuki pasar internasional.
Karding menyatakan bahwa ekspor dapat dimulai dari skala kecil sepanjang produk memenuhi persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa peluang perdagangan internasional tidak semestinya hanya menjadi milik perusahaan besar.
Pelaku UMKM dari berbagai daerah, termasuk Papua Pegunungan, juga memiliki kesempatan mengembangkan komoditas unggulan selama didukung kesiapan produksi, mutu, persyaratan karantina, dan akses pasar.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menekankan bahwa perlindungan sumber daya hayati dan keterbukaan perdagangan global harus berjalan beriringan.
Ia berharap Barantin tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM yang ingin mengembangkan usaha hingga menembus pasar internasional.
"Saya berharap kehadiran Badan Karantina Indonesia, selain menjalankan fungsi proteksi, juga menjadi pendamping bagi teman-teman UMKM," ujar Maman.
Menurut dia, pelaku UMKM perlu memahami bahwa memasuki pasar ekspor berarti harus memenuhi persyaratan yang berlaku di negara tujuan, bukan hanya ketentuan di dalam negeri.
Pertemuan Penehas dengan Karding dalam IQExpo 2026 mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi Penehas, perhatian itu menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
Dari stan kopi sederhana di tengah pameran, tersingkap cerita tentang harapan seorang anak muda dan masa depan komoditas dari tanah kelahirannya. Dan suatu hari nanti, ia berharap para petani di kampung halamannya dapat menikmati manfaat ekonomi yang lebih besar dari hasil kerja mereka sendiri.



