Jakarta (9/9) – Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama pakar internasional membahas penguatan keamanan, kesehatan, dan ketahanan rantai pasok pangan dalam rangkaian Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XII. Diskusi menyoroti peran strategis sistem karantina dalam menjaga keamanan pangan, mengendalikan risiko hama penyakit, serta mendukung kelancaran perdagangan komoditas.

Mewakili Kepala Barantin, Sekretaris Utama Barantin Shahandra Hanitiyo menyampaikan bahwa perspektif dan pengalaman internasional menjadi masukan penting bagi perumusan rekomendasi WNPG XII. WNPG XII mengusung tema “Penguatan Ekosistem Pangan dan Gizi Nasional untuk Mendukung Intervensi Gizi Skala Besar”, dengan hasil rekomendasi rencananya disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia pada 16 Oktober 2026.
Menurut Shahandra, penguatan sistem karantina perlu dilakukan dengan mengedepankan prinsip Sanitary and Phytosanitary (SPS), meliputi pendekatan berbasis sains, manajemen risiko, transparansi, harmonisasi, kesetaraan, dan nondiskriminasi. Prinsip tersebut penting untuk memastikan keamanan komoditas sekaligus mempertahankan akses pasar Indonesia di tingkat global.
“Badan Karantina Indonesia terus bertransformasi dari pengawas pasif menjadi akselerator ekonomi pemerintah, melalui fungsi teknis dan diplomasi,” ujar Shahandra. Fungsi teknis diwujudkan melalui pemenuhan standar internasional Codex Alimentarius, WOAH, dan IPPC, sedangkan fungsi diplomasi dilakukan melalui negosiasi protokol karantina dengan negara tujuan.

Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas sekaligus Ketua Tim Teknis WNPG XII, Jarot Indarto, mengatakan kunjungan pakar internasional ke Barantin menjadi kesempatan untuk memperkuat pemahaman mengenai peran karantina dalam menjaga keamanan pangan.

Koordinator Tim Perumus WNPG XII Aman Wirakartakusumah menambahkan, aspek keamanan pangan menjadi salah satu fokus pembahasan, terutama peran karantina sebagai gerbang keluar-masuk komoditas pangan. Penguatan sistem karantina juga berkaitan erat dengan upaya membangun kerja sama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta mewujudkan sistem pangan dan gizi yang baik.
Professor of Food Risk Analysis and Regulatory Policies Université Laval sekaligus President Global Food Regulatory Science Society (GFoRSS), Samuel Godefroy, menilai fungsi Barantin memiliki peran penting dalam sistem perdagangan dan keamanan pangan. Pelaksanaan fungsi karantina yang baik, khususnya sebagai garda terdepan dalam arus impor dan ekspor, turut membangun kepercayaan negara lain terhadap sistem pengawasan Indonesia.
Sementara itu, Professor Emeritus Department of Food and Nutrition Sookmyung Women’s University sekaligus President International Union of Nutritional Sciences (IUNS), Hyun-Sook Kim, menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan Barantin dalam pengendalian dan pengawasan kualitas nutrisi.
Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin Sriyanto menyampaikan bahwa penguatan sistem karantina masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk sinkronisasi data antara pelabuhan, bandara, dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN), serta integrasi dengan National Logistics Ecosystem (NLE).
Diskusi juga membahas pengalaman Kanada dan negara maju dalam penguatan keamanan pangan, analisis risiko berbasis sains, pengendalian hama dan penyakit, serta biosekuriti.
Shahandra menegaskan, masukan para pakar internasional akan menjadi bahan dalam penyusunan rekomendasi WNPG XII, khususnya terkait produksi, ketersediaan, dan keamanan pangan. Barantin juga membuka peluang kolaborasi lanjutan dalam peningkatan kapasitas, modernisasi layanan karantina, dan penguatan pengakuan kesetaraan sistem karantina Indonesia di tingkat global.


