Pangkalpinang - Badan Karantina Indonesia (Barantin) terus memperkuat hilirisasi komoditas unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui pembangunan ekosistem ekspor yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus membuka akses pasar internasional bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung Herwintarti mengatakan, Bangka Belitung memiliki potensi sumber daya alam yang besar.
Potensi tersebut perlu didukung dengan sistem layanan karantina dan kolaborasi lintas sektor agar mampu menghasilkan komoditas berorientasi ekspor.
"Komoditas unggulan hanya akan mampu bersaing di pasar internasional apabila didukung ekosistem yang sehat dan terintegrasi mulai dari produsen, proses hilirisasi, hingga pemenuhan persyaratan ekspor," kata Herwintarti dalam Web Series Go Ekspor Barantin #1, Rabu, 15 Juli.
Menurut dia, Karantina Bangka Belitung saat ini memiliki empat satuan pelayanan resmi dan delapan pos layanan tambahan yang tersebar di berbagai wilayah. Seluruh layanan tersebut menjadi garda terdepan dalam mendukung kelancaran lalu lintas komoditas ekspor.
Herwintarti mengatakan, percepatan ekspor tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Karena itu, Karantina Bangka Belitung membangun sinergi bersama Bea Cukai, otoritas pelabuhan, bandara, pelabuhan penyeberangan, serta berbagai instansi lain yang tergabung dalam layanan perbatasan.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penerapan Single Submission Quarantine Customs (SSM QC) yang mengintegrasikan proses layanan karantina dan kepabeanan sehingga mampu mempercepat pelayanan ekspor.
"Melalui sistem layanan terintegrasi ini kami ingin memberikan kemudahan bagi pelaku usaha sehingga proses ekspor menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien," ujarnya.
Herwintarti menambahkan, layanan tersebut telah berjalan optimal di Bangka Belitung. Berdasarkan data layanan Best Trust, implementasi SSM QC di wilayah tersebut telah mencapai 100 persen.
Ia mengatakan pendekatan hilirisasi yang dilakukan Barantin tidak berhenti pada proses pemeriksaan karantina, tetapi juga menyentuh pembinaan UMKM, penguatan kelembagaan, hingga mendorong keberlanjutan ekspor komoditas unggulan daerah.
Menurut Herwintarti, salah satu komoditas yang menunjukkan perkembangan signifikan ialah daun ketapang yang kini berhasil menembus pasar Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Jerman.
"Harapannya semakin banyak komoditas lokal yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi tinggi dapat diolah menjadi produk ekspor yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," katanya.
Selain daun ketapang, Karantina Bangka Belitung juga terus mendorong pengembangan komoditas lain seperti lada putih, produk turunan kelapa sawit, serta daun manggis yang mulai menunjukkan prospek ekspor ke pasar internasional.
Herwintarti berharap kolaborasi lintas sektor yang telah dibangun dapat memperkuat hilirisasi komoditas unggulan daerah sehingga semakin banyak UMKM yang mampu menembus pasar global.
"Melalui layanan yang terintegrasi, digital, dan modern, kami ingin memastikan semakin banyak produk unggulan Bangka Belitung mampu bersaing di pasar internasional dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat," ujar Herwintarti.



